BWIPOST.CO.ID, Jember, 24 Mei 2026 – Nanda Balqis Shakira Salsabila (9 tahun), siswi MI Al Falah Tanggul, sukses mengukir prestasi membanggakan usai menyabet gelar Juara 1 pada ajang Open Kejuaraan Karate Tingkat Provinsi yang digelar Institut Karate Do Indonesia (INKAI) Jawa Timur, Januari 2026 lalu, di GOR Pancasila Surabaya. Di balik ketangguhan dan kemampuannya yang memukau di atas arena, ada kisah menarik yang menjadi kunci keberhasilannya: keseharian yang sangat teratur, penuh disiplin, dan berlandaskan nilai kehidupan yang kuat, didikan langsung orang tuanya, Didik S.P., seorang prajurit TNI yang bertugas di wilayah Tanggul.
Hari-hari Balqis selalu dimulai pukul 04.30 pagi. Tanpa perlu dibangunkan berkali-kali, ia bangun sendiri, merapikan tempat tidur, lalu bersiap melaksanakan ibadah. Kemandirian dan kedisiplinan sudah tertanam sejak kecil, karena bagi anak yang tumbuh di lingkungan Asrama 515 Tanggul, keteraturan adalah kebiasaan, bukan kewajiban yang dipaksakan. “Bangun pagi adalah awal kemenangan, kemandirian adalah modal utama,” begitu pesan ayahnya yang selalu diingatnya.
Pukul 06.00 pagi, Balqis sudah rapi dengan seragam sekolah, berangkat menuju MI Al Falah Tanggul. Di sekolah, ia dikenal sebagai siswi yang tenang, sopan, cerdas, dan selalu berusaha menjaga prestasi akademik tetap terbaik. Ia memegang teguh nasihat ayahnya: “Belajar kewajiban, olahraga kebutuhan, dan keduanya harus berjalan seimbang.” Tidak pernah sekalipun prestasi di kelas ia abaikan demi latihan, begitupun sebaliknya.
Usai pulang sekolah pukul 12.30, ia langsung makan siang dan istirahat sejenak—hanya sekitar satu jam. Waktu siang dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas sekolah dan mengulang pelajaran, sebelum pukul 15.30 tiba: momen yang paling ditunggu sekaligus paling berat, waktu latihan karate. Hampir setiap hari, selama dua jam penuh, Balqis berlatih keras, mulai dari pemanasan fisik, latihan kuda-kuda, hingga penyempurnaan gerakan jurus atau kata. Meski sering pulang dengan baju basah keringat dan tubuh lelah, tak pernah terdengar keluhan sedikit pun.
“Kalau lelah, ingat tujuan. Kalau jatuh, bangkit lagi. Itu yang saya pegang, sama seperti ayah yang selalu siap dan tangguh saat bertugas,” ujar Balqis sederhana. Sang ayah, meski sibuk dengan dinas militer, selalu berusaha menyempatkan waktu mengantar dan memantau latihan. Ia tidak mengajarkan teknik, tapi menanamkan mental bertanding, keberanian, dan kepercayaan diri sebagai senjata terkuat.
Malam hari adalah waktu evaluasi dan istirahat. Setelah makan malam dan bercerita sejenak dengan orang tua, Balqis sudah berada di kamar tidur pukul 20.30. Tidur cukup menjadi syarat mutlak agar keesokan paginya ia kembali segar dan siap beraktivitas ulang dengan semangat yang sama.
Keseharian Balqis yang sederhana namun penuh makna inilah yang membawa buah manis di Surabaya. Di antara ratusan peserta se-Jawa Timur, ia tampil tenang, luwes, dan berkarakter kuat, sehingga dinilai layak meraih nilai tertinggi dari para juri. Prestasi ini bukan sekadar kemenangan pribadi, melainkan bukti nyata bahwa disiplin, dukungan keluarga, dan nilai-nilai luhur adalah fondasi utama menuju kesuksesan. Balqis Shakira membuktikan: usia muda bukan penghalang, tetapi justru waktu terbaik menanamkan kebiasaan baik yang kelak akan mengantar pada puncak prestasi.
Kisah Balqis Shakira Salsabila menjadi inspirasi nyata bagi banyak bocah seusianya Bahwa di balik kemenangan, ada disiplin, kerja keras, dan nilai-nilai luhur yang diturunkan orang tua. Putri prajurit ini membuktikan: usia muda bukan penghalang untuk meraih puncak prestasi, selama dibekali tekad baja dan bimbingan penuh kasih sayang. red-bp