Oleh: Siti Jazirotul Jannah, Anggota Lembaga Kesehatan PC PMII Banyuwangi
Banyuwangi, 6 Maret 2026 – Isu kesehatan mental pada Generasi Z kini semakin sering menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Di satu sisi, generasi ini dikenal sebagai kelompok yang jauh lebih terbuka dalam membicarakan perasaan, stres, hingga gangguan mental seperti kecemasan (anxiety) atau depresi. Namun di sisi lain, muncul anggapan dari sebagian masyarakat bahwa Gen Z terlalu “lebay”, cengeng, atau memiliki mental yang lemah. Polemik ini menciptakan perbedaan pandangan antar generasi dan menjadikan kesehatan mental sebagai isu sosial yang kompleks.
Generasi Z tumbuh di era digital yang serba cepat dan selalu terkoneksi, di mana media sosial menjadi bagian besar dari kehidupan sehari-hari. Paparan terus-menerus terhadap standar kesuksesan, kecantikan, dan gaya hidup yang ditampilkan di platform digital sering kali memicu perasaan tidak percaya diri, overthinking, hingga stres berkepanjangan. Selain itu, tekanan akademik, tuntutan karier yang tinggi, dan ketidakpastian ekonomi juga menjadi beban tersendiri yang harus dihadapi oleh generasi muda saat ini.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z cenderung lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental. Mereka lebih berani mengungkapkan apa yang dirasakan, aktif mencari informasi tentang kesehatan mental, bahkan tidak ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional. Sayangnya, sikap terbuka ini sering kali disalahartikan sebagai bentuk kelemahan. Padahal, mengakui adanya masalah dan mencari bantuan justru merupakan langkah yang sangat sehat dan berani.
Stigma bahwa “mental Gen Z lemah” bukan hanya sekadar pandangan yang salah, tetapi juga bisa menjadi hambatan besar dalam penanganan masalah kesehatan mental. Ketika seseorang takut dianggap berlebihan atau lemah, ia mungkin memilih untuk memendam masalahnya sendiri. Hal ini justru berisiko memperburuk kondisi mental dan menunda penanganan yang seharusnya bisa dilakukan lebih awal, sehingga masalah yang tadinya mungkin ringan bisa menjadi lebih serius.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melihat isu ini secara objektif dan lintas generasi. Setiap generasi memiliki tantangan zamannya masing-masing, dan membandingkan siapa yang lebih kuat tidak akan menyelesaikan masalah. Masyarakat sebaiknya membangun pemahaman bersama bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Edukasi, komunikasi yang terbuka, dan dukungan sosial yang kuat menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan mental.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi “lebay atau tidak”, melainkan bagaimana kita bisa saling memahami dan mendukung satu sama lain. Dengan begitu, setiap individu, termasuk Generasi Z, dapat tumbuh dengan sehat, baik secara fisik maupun mental, dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik. Red–Khalid