Banyuwangi Post | Balumbungan yang kini dikenal sebagai Blambangan, bagian dari Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu titik penting dalam perjalanan spiritual Pangeran Sunda bernama Ameng Layaran atau Bujangga Manik. Kisah perjalanannya ke wilayah ini tidak hanya menjadi bagian dari cerita rakyat Sunda, melainkan juga menyisakan jejak sejarah yang mengikat budaya Sunda dengan tradisi lokal Blambangan.
Salah satu lokasi yang menjadi fokus utama perjalanan Bujangga Manik di Blambangan adalah Situs Gumuk Mas di Desa Tembok Rejo, Kecamatan Muncar. Di sinilah ia melakukan meditasi, Bercocok tanam dan Membangun lingga yang menjadi bukti keberadaannya.
Sebagai putera Kerajaan Pajajaran, Bujangga Manik ujangga Manik dalam (red.Pujangga Manik dalam ejaan Jawa) memulai perjalanannya bukan hanya untuk menjelajahi wilayah, melainkan juga untuk memperdalam pemahaman spiritualnya. Dalam perjalanannya melintasi Pulau Jawa, ia memilih untuk mengunjungi Balumbungan karena dipercaya sebagai kawasan yang kaya akan energi spiritual dan menjadi pusat ajaran Siwa-Buddha pada masa itu.
JEJAK PENINGGALAN SANG RAKEYAN DI BLAMBANGAN
Perjalanan suci Rakeyan (red.Rakian/raden) Ameng Larangan menuju Balumbungan tidaklah mudah. Ia harus melewati berbagai rintangan alam dan jarak yang jauh, namun semuanya ditempuh dengan kesederhanaan dan penghormatan terhadap setiap tempat yang dilaluinya. Di wilayah ini, ia menjalin hubungan erat dengan masyarakat lokal, menyebarkan nilai-nilai luhur, penghormatan terhadap alam, dan pentingnya pencarian kebenaran.
Menurut Sanghyang Dodik, warga lokal yang merawat situs tersebut, dahulu pernah dilakukan penggalian oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala yang menghasilkan artefak seperti stupika dan perlengkapan ibadah Hindu-Buddha, yang kini disimpan di Museum Tantular.
Perjalanan Bujangga Manik ke wilayah ini meninggalkan dampak mendalam bagi kehidupan masyarakat lokal. Banyak tradisi dan nilai budaya yang masih dijunjung tinggi hingga saat ini, menjadi bukti bahwa jejak yang di tinggalkannya tidak hanya terkunci dalam sejarah, melainkan juga hidup dan bernapas dalam kehidupan sehari-hari.
RELEVANSI UNTUK EXPLORASI SEJARAH BLAMBANGAN
Kisah perjalanannya tidak hanya memperkaya khazanah cerita rakyat Sunda, melainkan juga menjadi dasar untuk mengkaji lebih mendalam hubungan sejarah antara Kerajaan Pajajaran dan Blambangan pada masa kuno. Selain itu, jejak spiritual yang ditinggalkannya berpotensi menjadi daya tarik utama bagi wisata sejarah dan spiritual di Kecamatan Muncar. Bersambung
Sejarah Bujangga Manik memberikan dimensi baru dalam eksplorasi sejarah Blambangan. Sebagai wilayah yang pernah menjadi perbatasan sekaligus titik temu berbagai budaya, Blambangan memperoleh makna yang lebih dalam ketika dikaitkan dengan petualangan sang rohaniawan.